A. Pengertian Teori Belajar Konstruktivistik
Konstruktivisme
sendiri adalah sebuah filosofi pembelajaran yang dilandasi premis bahwa dengan
merefleksikan pengalaman,kita membangun, mengkonstruksi pengetahuan pemahaman
kita tentang dunia tempat kita hidup. Setiap kita akan menciptakan hukum dan
model mental kita sendiri, yang kita pergunakan untuk menafsirkan dan
menerjemahkan pengalaman. Belajar, dengan demikian, semata-mata sebagai suatu
proses pengatura model mental seseorang untuk mengakomodasi pengalaman-pengalaman
baru.[1]
Teori belajar konstruktivisme ini tidak sama dengan
teori pembelajaran Behaviorisme yang mementingkan perubahan tingkah laku pada
pelajar. Pembelajaran dianggap berlaku apabila terdapat perubahan tingkah laku
kepada pelajar, contohnya dari tidak tahu kepada tahu. Hal ini kemudian beralih kepada teori pembelajaran
Kognitivisme, dimana ide utama pandangan ini adalah mental. Semua dalam diri
individu diwakili melalui struktur mental dikenal sebagai skema yang akan
menentukan bagaimana data dan informasi yang diterima, difahami oleh manusia.
Jika ide tersebut sesuai dengan skema, ide ini akan diterima atau begitu juga
sebaliknya maka lahirlah teori pembelajaran Konstruktivisme yang bermula dari
gagasan Piaget dan Vigotsky, merupakan pandangan terbaru di mana pengetahuan
akan dibangun sendiri oleh pelajar berdasarkan pengetahuan yang ada pada
mereka. Makna pengetahuan, sifat-sifat pengetahuan dan bagaimana seseorang
menjadi tahu dan berpengetahuan, menjadi perhatian penting bagi aliran
konstruktivisme.[2]
Menurut pandangan Konstruktivistik,
belajar merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau
bahan yang di pelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki, sehingga
pengetahuanya berkembang, belajar adalah suatu proses dari si subyek belajar
untuk menkonstruksi makna sesuatu entah itu teks, kegiatan dialog,atau
pengalaman fisik Dalam pembentukan pengetahuan.[3]
Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa. Ia harus aktif melakukan kegiatan,
aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang
di pelajari, tetapi yang paling menentukan dalam gejala belajar adalah niat
belajar siswa itu sendiri, sementara peranan guru dalam belajar
konstruktivistik berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan
oleh siswa berjalan lancar. Seorang guru dapat
membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi
sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan
mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri
untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu
nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.[4]
Berikut
ini adalah ciri-ciri pembelajaran yang Konstruktivis menurut beberapa
literature yaitu:
a. Pengetahuan di bangun berdasarkan
pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
b. Belajar adalah merupakan penafsiran
personal tentang dunia.
c. Belajar merupakan proses yang aktif dimana
makna di kembangkan berdasarkan pengalaman.
d. Pengetahuan tumbuh karena adanya
perundingan makna melalui berbagai informasi atau menyepakati sesuatu pandangan
dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
e. Belajar harus disituasikan dalam latar
belakang yang realistic, penilaian harus
terintegrasi dengan tugas dan bukan merupakan kegiatan yang terpisah. [5]
B. Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Kontrustivistik
Terdapat beberapa prinsip pembelajaran konstruktivistik
yang perlu dipahami para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.
Prinsip-prinsip dimaksud adalah sebagai berikut:
1.
Pengetahuan
dikonstruksi oleh peserta didik
Konstruktivisme memandang
pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada orang
lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Setiap
orang harus mengkonstruksikan pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang
sudah jadi, tetapi suatu proses yang berkembang terus menerus. Dalam proses ini
keaktifan seseorang dalam upayanya untuk mengkonstruksikan pengetahuan akan
sangat menentukan bagi perkembangan pengetahuannya. Oleh karena itu, dalam
pandangan kontruktivisme, peserta didik tidak bisa dipandang sebagai kertas
kosong atau sebagai botol kosong yang hanya menunggu ditulisi atau diisi oleh
guru. Berangkat dari pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya, peserta
didik telah memiliki pengetahuan awal. Pengetahuan awal inilah yang kemudian
dapat di gunakan untuk mengkonstruksi pengetahuan berikutnya.[6]
Menurut Mujis dan Reynold, di
dalam pendidikan ide-ide konstruktivis diterjemahkan sebagai semua peserta
didik benar-benar mengkonstruksikan pengetahuan untuk dirinya sendiri, dan
bukan pengetahuan pengetahuan yang datang dari guru diserap oleh peserta didik.
Belajar merupakan sebuah proses aktif menyiratkan bahwa peserta didik perlu
bersikap aktif agar dapat belajar secara efektif.[7]
Menurut Abbot dan Ryan (dalam Ginnis,2007),
kontruktivisme berpegang bahwa belajar pada dasarnya aktif. Seseorang yang
mempelajari sesuatu yang baru membawa ke pengalaman itu semua pengetahuan
sebelumnya dan memberikan pola mental. Tiap fakta atau pengalaman baru
terintegrasi ke dalam jaring pemahaman yang aktif yang telah ada di dalam otak
orang tersebut. Belajar oleh konstruktivisme, merupakan proses dan struktur
yang sangat subjektif, dan pribadi yang terjadi secara terus menerus dan aktif
dimodifikasi dengan mempertimbangkan pengalaman baru. Dengan bentuk belajar
dari konstruktivisme, setiap anak menata pengalamannya sendiri tentang dunia ke
dalam pola unik, yang menghubungkan tiap fakta, pengalaman, atau pemahaman baru
ke dalam cara subjektif yang mengikat anak itu ke dalam hubungan yang rasional
dan bermakna ke dunia yang lebih luas.
2.
Masalah
yang relevan perlu diperhatikan dalam pembelajaran
Guru perlu menghadirkan
masalah-masalah yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan di bahas.
Masalah ini menjadi acuan bagi pengkajian informasi lebih lanjut. Masalah yang
bersifat menantang akan menarik perhatian peserta didik untuk melakukan
penelusuran informasi dan pengkajian lebih lanjut yang memumngkinkannya untuk
menemukan dan mengkonstruksi pengetahuan. Menurut Schunk (2012), guru dapat
menyusun pelajaran di seputar pertanyaan-pertanyaan yang menantang
konsepsi-konsepsi awal peserta didik. Proses ini perlu waktu, yang berarti
bahwa materi-materi pelajaran lainnya mungkin tidak tertangani. Relevansi tidak
dibangun dengan ancaman akan memberikan tes kepada peserta didik , tetapi
dengan menstimulasi ketertarikan mereka dan membantu mereka menemukan bagaimana
masalah yang dihadapi mempengaruhi mereka.
3.
Pembelajaran
harus di sekitar konsep-konsep pokok
Ini berarti bahwa guru merancang
aktivitas seputar kelompok-kelompok pertanyaan dan permasalahan konsteptual,
sehingga ide-ide yang ada disajikan secara holistis atau menyeluruh, bukan
secara terpisah (Brooks, dalam Schunk, 2012).
4.
Menghargai
sudut pandang peserta didik
Menurut Schunk (2012), memahami
perspektif peserta didik adalah hal yang sangat penting untuk merancang
aktivitas-aktivitas yang menantang dan menarik. Dalam hal ini guru harus
mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menghidupkan diskusi-diskusi, dan
mendengarkan apa yang dikatakan peserta didik. Guru yang kurang berusaha
memahami apa yang dipikirkan peserta didik, tidak dapat menonjolkan peran
penting pengalaman-pengalaman peserta didik dalam pembelajaran.
5.
Konstruksi
pengetahuan tidak hanya bersifat individual
Menurut Mujis & Reynolds (2008),
konstruksi pengetahuan bukan sesuatu yang bersifat individual semata. Belajar
juga dikonstruksikan secara sosial melalui interaksi dengan teman sebaya, guru,
orang tua, dsb. Dengan demikian, yang terbaik adalah mengkonstruksikan situasi
belajar secara sosial dengan mendorong kerja dan diskusi kelompok.
C. Tokoh-tokoh Penggagas Teori Konstruktivistik
1. Piaget.
Teori Piaget berlandaskan gagasan bahwa
perkembangan anak bermakna membangun struktur kognitifnya atau peta mentalnya
yang diistilahkan “Schema = skema “ atau konsep jejaring untuk memahami,
menanggapi pengalaman fisik dalam lingkungan di sekelilignya.[8]
Skema tidak pernah berhenti berkembang. Skema seorang anak berkembang menjadi
skema orang dewasa. Gambaran dalam pikiran anak menjadi semakin berkembang dan
lengkap. Misalnya anak yang sedang berjalan dengan ibunya melihat seekor kuda.
Lalu ibunya bertanya, “ apa nama binatang itu nak?” karena anak tersebut baru
kali itu melihat seekor kuda dan sudah sering melihat sapi, nmaka ia menjawab “
itu sapi”. Anak tersebut melihat ada sesuatu yang sama antar kuda dan sapi yang
ia punyai, yaitu berkaki empat, bermata dua, bertelinga dua, dan berjalan
merangkak. Anak tersebut belum dapat melihat perbedaanya. Melainkan melihat
kesamaanya anatara sapi dengan kuda. Bila anak mampu melihat perbedaanya, ia
akan mengembangkan skemanya tentang kuda, tidak sebagai sapi lagi.
Konsekuensi dari teori Konstruktivistik Piaget dalam
Pembelajaran:
Kurikulum
: Pendidik harus merencanakan kurikulum yang berkembang sesuai dengan peningkatan
logika anak dan pertumbuhan konseptual anak.
Pengajaran : Guru harus lebih menekankan pentingnya
peran pengalam bagi anak, atau interaksi anak dengan lingkungan di
sekelilingnya. Misalnya guru harus mencermati peran penting konsep-konsep
fundamental, dan permainan-permainan yang menunjang struktur kognitif.[9]
2. Lev Vygotsky
Lev Vygotsky ( 1896 – 1834) adalah ahli
psikologi Rusia. Menurutnya perkembangan intelektual anak terjadi pada saat
berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang. Mereka berusaha untuk
memecahkan masalah yang muncul dari pengalaman. Dalam upaya mendapatkan
pengalaman baru, individu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal
yang telah dimilikinya dan membangun pengertian baru.[10]Lev
Vygotsky berkata ada 2 konsep penting dalam teori nya yaitu :
a. Zone of Proximal Development.
Kemampuan
pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan
teman sejawat yang lebih mampu.[11]
b. Scaffolding
Pemberian
sejumlah bantuan kepada siswa selama
tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan
memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar
setelah ia dapat melakukanya. Konsep ini adalah proses atau cara memberikan
bantuan yang diberikan oleh teman sebaya atau guru.[12]
Konsekuensi dari Teori Konstruktivistik
Lev Vygotsky dalam Pembelajaran:
Kurikulum
: karena anak belajar umumnya melalui
interaksi, kurikulum harus dirancang untuk menekankan adanya interaksi antara
pembelajar dengan tugas- tugas pembelajaran.
Pengajaran : Dengan bantuan yang sesuai oleh orang dewasa,
anak-anak sering dapat melaksanakan tugas-tugas yang tidak mampu diselesaikanya
sendiri.[13]
D. Konstruktivistik dalam Pembelajaran
Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun sendiri
pengetahuannya. Siswa mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari, ini
merupakan proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan kerangka
berfikir yang telah ada dalam pikiran mereka. Dalam hal ini siswa membentuk
pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses
pembentukan itu. Proses perolehan pengetahuan akan terjadi apabila guru dapat
menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal yang dimaksud disini adalah suatu
proses belajar.
Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah
memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut
akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru.
Seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan
persoalan, namun mempresentasikan masalah dan meng’encourage’
(mendorong) siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan
permasalahan. Ketika siswa memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak
mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa
untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar
ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal siswa.
Pendekatan konstruktivistik dalam pengajaran, merupakan penerapan
pembelajaran kooperatif secara luas, berdasarkan teori bahwa siswa lebih mudah
menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling
mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja
dalam kelompok, untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks.
Sekali lagi, penekanan pada hakikat sosial dalam belajar dan penggunaan
kelompok sejawat untuk memodelkan cara berpikir dan sesuai dan saling
mengemukakan dan meluruskan kekeliruan pengertian atau miskonsepsi-miskonsepsi
diantara mereka sendiri. Dalam hal ini siswa dihadapkan pada proses berpikir
teman sebaya mereka; metode ini tidak hanya membuat hasil belajar terbuka untuk
seluruh siswa tetapi juga membuat proses berpikir siswa lain lebih terbuka
untuk seluruh siswa.[14]
E. Tahapan dalam Teori Pembelajaran Konstruktivistik
|
Fase
|
Deskripsi
|
|
Fase start
|
Guru mengukur pengetahuan awal peserta didik dan
menetapkan pembelajaran.
Guru dapat memulai dengan masalah atau situasi atau
kasus yang relevan dengan kehidupan sehari-hari untuk mengantarkan pada
materi pembelajaran yang akan dibahas.
Guru menetapkan sebuah aktivitas belajar yang
memungkinkan peserta didik menemukan berbagai aturan dan definisi.
|
|
Fase eksplorasi
|
Peserta didik mengerjakan aktivitas yang telah
ditetapkan guru pada fase 1. Kegiatan ini biasanya bersifat eksploratik,
melibatkan situasi atau bahan-bahan riil, dan memberikan kesempatan untuk
kerja kelompok.
Peserta didik perlu diingatkan tentang proses-proses
meta kognitif yang mungkin akan mereka terapkan ketika menyelesaikan masalah.
|
|
Fase Refleksi
|
Peserta didik dimintakan untuk memperhatikan kembali
aktivitas yang telah dilakukan, menganalisis, dan mendiskusikan kembali apa
yang telah mereka kerjakan, baik dengan kelompok lain maupun dengan guru.
Guru dapat memberikan scaffolding yang bermanfaat melalui pertanyaan dan komentar yang
di rancang untuk mengaitkan eksplorasi dengan konsep kunci.
|
|
Fase aplikasi
|
Guru meminta semua
kelompok mendiskusikan berbagai temuan dan menarik kesimpulan.
|
BAB III
KESIMPULAN
Hakekat dari teori konstruktivistik adalah bahwa siswa harus secara
individu menemukan dan menerapkan informasi-informasi kompleks ke dalam situasi
lain apabila mereka harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Siswa
berperan aktif dalam pembelajaran, sedangkan guru adalah membantu membuat
kondisi yang memungkinkan siswa untuk secara mandiri menemukan fakta, konsep
atau prinsip yang mecereka cari atau dalami.
Jadi pada dasarnya jika diambil dari beberapa pendapat diatas Constructivism (konstruktivisme)
merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah
seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan
diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui
pengalaman nyata.
Tokoh-tokoh pelopor Teori belajar Konstruktivisme yaitu Jean Piaget dan
Lev Vygotsky yang merupakan Ahli psikologi kenamaan Eropa, yang merupakan tokoh
dalam pengembangan konsep konstruktivisme. Mereka merupakan peletak dasar paham
konstruktivisme dengan kajiannya bertahun-tahun dalam bidang psikologi dan
perkembangan intelektual anak.
Dan yang paling penting kita sebagai calon Seorang guru supaya tidak
mengajarkan kepada anak didik bagaimana
menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan meng’encourage’
(mendorong) siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan
permasalahan. Ketika siswa memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak
mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa
untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar
ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Kosma C Semester 3. Model Strategi
Pembelajaran PAI. Surabaya: FTK Uinsa, 2017.
Mustofa, Bahri. Psikologi
Perkembangan. Surabaya: UINSA Press, 2014.
Ningsih, Budi. Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 2005.
Ratumanan, T.G. Belajar
dan Pembelajaran. Surabaya: UNESA UniversityPress
Sanjaya, Wina. Strategi
Pembelajaran Beriorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media
Group, 2008.
Sardiman. Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2006.
Siregar, Evelyn, and
Hartini Nara. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Penerbit Ghalia
Indonesia, 2011.
Slavin, Robert.E. Psikologi Pendidikan
: Teori dan Praktik. Jakarta: Permata Puri Media,2011
Suyono, and Hariyanto. Belajar
Dan Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
Ummi, Hikmah Uswatun, and
Indrya Mulyaningsih. "Penerapan Teori Konstruktivistik pada Pembelajaran
Bahasa Arab Di IAIN SYEKH NURJATI CIREBON." Journal Indonesian Language
Education and Literature, 2016:
[1]
Suyono dan Hariyanto, Belajar
dan Pembelajaran, ( Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2012), hal 105-106.
[3]
Sardiman, Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2006), hal 17 –
18.
[5]
Hikmah Uswatun Ummi dan
Indrya Mulyaningsih, “Penerapan Teori Konstreuktivistik Pada Pembelajaran
Bahasa Arab Di IAIN SYEKH NURJATI CIREBON”, Journal Indonesian Language
Education and Literature, Vol. 1 No. 2, 2016, 46.
[7]Mujis,
Daniels, Reynolds, Efektif Teaching,
Evience and Practice, (London : Sage Publication Ltd), hal. 101.
[8]Suyono dan Hariyanto, Belajar
dan Pembelajaran, hal 107.
[10]Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran beriorentasi Standar Proses Pendidikan, ( Jakarta: Prenada
Media Group, 2008), hal 237.
[11]Robert E. Slavin, Psikologi
Pendidikan ; Teori dan Praktik, ( Jakarta: Permata Puri Media, 2011), hal
4.
[12]Suyono dan Hariyanto, Belajar
dan Pembelajaran, hal 113.
[13]Ibid, 118.
[14]Suyono,
Hariyanto,Belajar dan Pembelajaran,( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2012), hal.222.
Komentar
Posting Komentar