Ceramah untuk lomba dai
MTSN 1 SURABAYA
Assalamualaikum Wr. Wb
الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي
أَمَرَناَ باِلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ وَالإِبْتِعاَدِ عَنِ العاَدَاتِ
الجاَهِلِيَّةِ. وَالصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٌ لاَ
نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيَّ الرَحْمَةِ وَقُدْوَةَ الأُمَّةِ
لِنَيْلِ السَعَادَةِ فيِ الدُنْيَا وَالآخِرَةِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ
عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ
اللهِ أُوصِيْكُمْ وَإِيّاَيَ بِتَقْوَى اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah rahimakumullah,
Keistimewaan dan kekuatan ajaran Islam selain pada ‘aqidah mentauhidkan Allah, adalah seruan kepada
umatnya untuk menjaga persatuan di antara umat Islam atau ukhuwah Islamiah kal jasadil
waahid serta cercaan
terhadap perpecahan umat.
Hal ini seperti ditegaskan di dalam ayat:
وَٱعۡتَصِمُواْ
بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ
عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم
بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ
فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَاۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ
لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ
Artinya: “Dan berpegang
teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dengan bersatu-padu dan
janganlah kamu bercerai-berai dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika
kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara
hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah
kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara dan kamu dahulu
telah berada di tepi jurang Neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliah),
lalu Allah selamatkan kamu dari Neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga).
Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keterangan-Nya, supaya kamu
mendapat petunjuk hidayah-Nya”. (Q.S. Ali Imran [3]: 103).
Melalui ayat ini, Allah hendak mengingatkan
akan makna pentingnya “hablullaah”atau
tali Allah, yakni Al-Quran, yang datang dari langit atau sisi Allah dan
diturunkan untuk umat manusia di muka bumi ini.
Seperti disebutkan di dalam sebuah hadits dari
Abu Syuraih Al-Khuza’i berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berada di tengah-tengah kami, beliau
bersabda: “Kabar gembira buat kalian, apakah kalian bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang haq selain Allah dan aku adalah utusan-Nya?” Para sahabat menjawab: “Benar“. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Al-Quran ini
adalah tali perantara, salah satu ujung talinya berada di sisi Allah dan ujung
lainnya ada di tengah-tengah kalian, maka berpegang teguhlah padanya, sungguh
kalian tidak sesat dan binasa jika berpegang teguh padanya (Al-Quran)“. (Shahih Ibnu Hibban).
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun menyebut Al-Quran dengan:
هُوَ حَبْلُ اللهِ
المَتِيْنُ وَصِرَاطُهُ الْمُسْتَقِيْمَ
Artinya: “Dia (Al-Qur’an itu)
adalah tali Allah yang kokoh dan jalan-Nya yang lurus”.
Juga dikatakan:
اِنَ هَذاَالْقُرْأَنَ
هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمَتِيْنُ وَهُوَ النُّوْرُ الْمُبِيْنُ وَهُوَ
الشِّفاَءُ النَّافِعُ عِصْمَةَ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ وَنَجَاةً لِمَنِ
اتَّبَعَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Al-Qur’an
adalah tali Allah yang kokoh, cahaya yang menerangi, penawar yang memberi
manfaat, sebagai penjaga bagi orang yang berpegang teguh dengannya dan
penyelamat bagi yang mengikutinya“. (H.R. Ibnu Mardawaih).
Jamaah yang dirahmati Allah,
Adapun cara memegang tali Allah atau Al-Quran
itu supaya kuat adalah dengan cara “jamii’an”, artinya bersatu padu atau berjama’ah.
Ahli tafsir terkemuka Al-Hafidz Ibnu
Katsir di dalam Tafsir Al Qur’anil ‘Azhimmenjelaskan tentang maksud ayat ini adalah bahwa, “Allah memerintahkan
umat Islam untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Telah datang banyak
hadits, yang berisi perintah persatuan dan larangan perpecahan. Mereka dijamin
terjaga dari kesalahan manakala mereka bersepakat, bersatu, berjama’ah”.
Demikian pula mufassir Al-Qurthubi di
dalam Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an mengatakan, tentang tafsir ayat ini bahwa “Sesungguhnya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan persatuan dan melarang dari
perpecahan. Karena sesungguhnya a- jama’ah atau persatuan merupakan keselamatan dan
perpecahan merupakan kebinasaan”.
Ditegaskan dengan kalimat “walaa tafarraquu”, artinya dan janganlah kalian berpecah
belah. Berarti bahwa peringatan Allah kepada umat Islam adalah untuk bersatu
dalam persaudaraan Islam dan sebaliknya larangan berpecah-belah sebab
menyebabkan lemahnya umat Islam di hadapan umat lain.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menguraikan,
bahwa para pengikut sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah kelompok manusia terbesar yang
bersatu dan saling mengasihi karena Allah. Sebaliknya golongan filsafat adalah
kelompok manusia terbesar dalam pertikaian dan perselisihan. Sesungguhnya dalam
golongan yang hanya mengandalkan ro’yu atau logika otak semata, akan banyak
terjadi pertikaian dan perselisihan, sesuai dengan pendapatnya masing-masing.
Satu sama lain bahkan bisa saling menyalahkan. Hal seperti ini tak mungkin dan
tak akan pernah terjadi pada umat yang mengikuti perilaku Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bersumber dari Al-Quran dan
Al-Hadits. Jika terjadi perselisihan pada umat Islam dan mengakibatkan
pertikaian, permusuhan, pengafiran bahkan sampai pada pertumpahan darah, maka
ketahuilah bahwa hawa nafsu telah berperan di sini dan bukan lagi kebenaran.
Belajar dari orang-orang salih terdahulu, dari generasi sahabat,
tabi’in, ulama, mujahid dan tokoh pergerakan Islam, mereka sungguh telah
memberikan contoh kepada kita, bahwa walaupun mereka terkadang bahkan
seringkali berbeda pendapat dan berselisih paham dalam masalah kaifiyat atau
cara pelaksanaan ibadah tertentu, dan ini bukan pada masalah aqidah Islam.
Namun mereka tetap bersatu, berkomunikasi dan saling kasih dalam bingkai
ukhuwah Islamiyah.
Karena itu, persatuan dan kesatuan umat Islam akan menbdatangkan
ridha Allah, sebaliknya perpecahan hanya akan mendatangkan murka-Nya. Seperti
disebutkan di dalam hadits:
إنَّ اللهَ يَرْضَى
لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا, يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ
وَلَا تُشْرِكُوْ بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا
وَلَا تَفَرَّقُوْا وَأَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ
وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإضَاعَةَ الْمَالِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai
kalian tiga hal dan membenci kalian tiga hal. Dia meridhai kalian untuk
(pertama) menyembah-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, (kedua)
berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah seraya berjama’ah dan tidak
berpecah-belah, (ketiga) memberikan nasihat kepada para pemimpin kalian.
Dia (Allah) pun membenci tiga hal bagi kalian, yaitu (pertama) menceritakan
sesuatu yang tidak jelas sumbernya, (kedua) banyak bertanya (tapi tidak untuk
diamalkan), dan (ketiga) menghambur-hamburkan harta”. (H.R. Muslim, Malik dan Ahmad. Lafadz Malik
dan Ahmad).
Untuk itu, hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah,
Marilah kita jauhi pertikaian, berbantah-bantahan, dan
perpecahan, karena hal itu hanya akan melemahkan sendi-sendi kekuatan umat
Islam.
Allah telah memperingatkan dengan keras di dalam ayat:
وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ
وَرَسُولَهُ ۥ وَلَا تَنَـٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ
وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
Artinya: “Dan taatlah kamu
kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak
nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu dan sabarlah (menghadapi
segala kesukaran); sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar”. (Q.S.
Al-Anfal [8]: 46).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan petunjuk di dalam sabdanya:
مَنْ تَرَكَ
الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ
تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى
الْجَنَّةِ
Artinya: “Barangsiapa menghindari
perbantahan padahal ia posisinya adalah salah, maka Allah akan membangunkan
rumah baginya di taman surga. Dan barangsiapa menghindari perbantahan, padahal
posisi dirinya benar, maka Allah membangunkan rumah untuknya di dalam surga
yang tinggi”. (H.R. Abu Dawud Ibnu Majah dan
At-Tirmidzi. At-Tirmidzi manyatakan hadits ini hasan).
Sehubungan dengan hal ini, tentang pentingnya
menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam, serta menjauhi perpecahan yang
biasanya dimulai dari fanatisme golongan, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali
mengatakan, “Sesungguhnya sikap fanatik adalah penyakit kronis yang telah
membinasakan umat terdahulu dan sekarang. Penyakit inilah yang pertama kali
terjadi dalam sejarah makhluk-makhluk yang Allah ciptakan, yaitu saat menimpa
iblis terlaknat. Dengan sebab itulah ia menjadi makhluk pertama yang bermaksiat
kepada Allah. Kefanatikannya terhadap bahan asal penciptaannya, yakni api,
menyebabkannya kufur dan menolak perintah Allah untuk sujud memberikan
penghormatan kepada Nabi Adam ‘Alaihis Salam.
Demikianlah, semoga kita dapat menjaga persatuan dan kesatuan
umat Islam serta menjauhi perpecahan dan perbantahan di antara kaum Muslimin.
Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.
Komentar
Posting Komentar