Langsung ke konten utama

RESUME BUKU PSIKOLOGI AGAMA


RESUME BUKU PSIKOLOGI AGAMA
Khairunnas Rajab Ph. D
Nama   : Abdul Chafidh
NIM    : D91216039
Kelas   : B
IDENTITAS BUKU
1.      Judul Buku      : Psikologi Agama
2.      Penulis            : Khairunnas Rajab Ph. D
3.      Penerbit           : Lentera Ilmu Cendikia
4.      Cetakan           : Pertama 2014
5.      Jumlah Hal      : 149 halaman

KAJIAN AWAL
DASAR PEMIKIRAN

Menilik sejarah penciptaan manusia, agaknya terlalu jauh dalam merujuk, namun masalah psikologis yang tidak terbantahkan adalah bahwa manusia dengan dimensi fisikal dan psikologikal telah terwujud sejak manusia berada di bumi. Karena itu penulis ingin mengatakan bahwa manusia yang lahir ke Bumi telah membawa sejumlah potensi, yang kemudian menimbulkan perilaku baik ataupun buruk. Gejala perilaku baik maupun buruk tersebut kemudian menjadi perhatian psikolog untuk melahirkan sebuah teori dalam mempelajari gejala yang melekat pada individu.
            Setidaknya ada dua tahapan sejarah perkembangan psikologi yaitu pertama;  psikologi sebagai bagian dari kajian filsafat dan belum menjadi sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Thales (624-547 SM) meyakini bahwa jiwa dan hal-hal yang bersifat supranatural lainnya tidak ada, karena gejala sesuatu yang ada harus dapat di terangkan dengan gejala alam (natural phenomenon) dan Thales mempercayai bahwa segala sesuatu yang ada itu berasal  dari air. Karena jiwa tidak mungkin berasal dari air, maka jiwa itu dianggapnya tidak ada. Kenyataan ini membuktikan bahwa jiwa sudah menjadi bahan kajian filosof jauh sebelum masehi. Kedua: psikologi setelah menjadi sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sejak Wilhelm Wundt menidirikan laboratorium psikologi di leipzig pada tahun 1879, psikologi menjadi fokus kajian sebagian sarjana, untuk menyelidiki tentang gejala-gejala jiwa secara sistematik dan objektif.
Awal mula psikologi agama timbul adalah implikasi dari fenomena psikologis tersebut, di mana ia kemudian memerlukan solusi. Perawatan gangguan psikologis, yang merusak ketentraman manusia. Hal itulah yang disebut oleh pakar psikologi sebagai psikoterapi. Kenyataan hubungan antara psikologi dengan agama adalah sesuatu yang tak terelakkan, keduanya membuat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Psikologi merupakan segmen perilaku sedangkan agama adalah cerminan yang mengantarkan orang berperilaku baik ataupun buruk.
Humanistik adalah sebuah model yang memandang manusia sebagai makhluk yang berada dalam proses untuk memanusiakan mereka dengan memberi penekanan khusus kepada kecenderungan-kecenderungan alamiah manusia untuk mengatur diri sendiri dan memenuhi kebutuhan diri. Psikologi barat dalam kaitannya dengan psikologi agama, merupakan dua paralel yang similar dan berkesinambungan dalam eksistensi suatu keilmuan. Kedua-duanya tidak dapat dipisahkan begitu saja, karena psikologi agama berkaitan langsung dengan psikologi di satu sisi dan agama di sisi lain.
Ada dua metode yang berkaitan langsung dengan psikologi, yaitu research metods dan psychoterapy methods. Research metode lebih kepada eksperimen-eksperimen yang di lakukan secara objektif. Penyelidikan ini lebih banyak di lakukan dalam laboratorium. Pendekatan eksperimen ini, mensyaratkan metode pengukuran. Sementara psikologi agama lebih menitikberatkan kepada perilaku perilaku beragama individu, keluarga dan komunitas masyarakat, yaitu sebuah penilaian kuantitatif.
Mengenal Psikolog Barat
Sejak berdirinya laboratorium psikologi di Leizpig, psikologi menjadi perhatian ilmuan untuk mengkaji lebih intisif tentang dimensi kejiwaan manusia, kesadaran atau ketidaksadaran, sebab perilaku-perilaku, motivasi-motivasi, dan dimensi kerohanian yang berkaitan dengan agama, sampai kepada metode psikoterapi. Di bawah ini adalah di antara psikolog yang berjasa dalam pengembangan psikologi.
Wilhelm Wundt (1832-1920)
Wundt adalah bapak psikologi barat, yang menganggap metode dasar psikologi sebagai pengamatan eksperimental ke atas diri seseorang yang di sebut dengan instropeksi. Wundt meyakini bahwa tugas utama pakar psikologi adalah menyelidiki serta mempelajari proses dasar kesadaran manusia, yang merupakan pengalaman langsung, kombinasi-kombinasinya dan hubungan-hubungannya seperti layaknya seorang pakar chemistry (kimia) menyelidiki elemen dasar suatu zat. Bagi wundt yang terpenting adalah mempelajari cara kerja mental yang terpusat pada perhatian, maksud, serta tujuan yang dimiliki.
Sigmund Freud (1856-1939 M)
Freud adalah seorang dokter yang menangani masalah individu yang mengalami gangguan mental ringan yang diklasifikan sebagi individu psikoneurosis. Penyakit-penyakit itu mencakup histeria dengan tanda-tandanya yang di sebabkan oleh gangguan mental dan kemudian menimbulkan gangguan organik seperti lumpuh, mati rasa atau gangguan pada lambung, cemas, gelisah dan perasaan takut yang tidak beralasan (fobia) serta berbagai macam tindakan yang di lakukan secara tidak sadar. Untuk menerangkan teori psikoanalitiknya, Freud menguraikan tiga dimensi psikologis manusia yaitu : Id, Ego, dan Superego. Id adalah bawaan sejak lahir, dengan beberapa proses terjadi pada tingkat yang tidak di dasari. Bagi Freud, ego adalah sebagai mediator (pendamai) bagi Id dan Superego. Superego adalah sebagi pengantara yang membimbing, memandu, mengarahkan, serta menunjukkan salah dan benar sesuatu persoalan.
William James (1842-1910)
William James adalah seorang psikolog Amerika Serikat yang mengajarkan filsafat dan psikologi pada Harvard University tidak kurang dari 35 tahun. James menentang aliran strukturalis, karena baginya aliran ini sangat dangkal, tidak murni, dan kurang dipercaya kebenarannya. James tergolong orang yang berpikir bebas, tidak terikat pada salah satu sistem atau metode tertentu. Bagi James emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap rangsangan yang datang dari luar.
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Ivan Petrovich Pavlov adalah seorang psikolog Rusia yang lahir di Ryazan pada tanggal 26 September 1849. Pavlov lebih tertarik pada fisiologi timbang psikologi. Pavlov melihat pada ilmu psikiatri yang masih baru saat itu sedikit meragukan. Namun ia sungguh-sungguh berpikir bahwa refleks terkondisi dapat menjelaskan perilaku orang gila. Sebagai contoh ia mengusulkan mereka yang menarik diri dari dunia bisa menghubungkan semua rangsangan dengan luka atau ancaman yang mungkin. Gagasannya memainkan peran besar dalam teori psikologis behavioris, yang diperkenalkan oleh John B. Watson sekitar tahun 1913.
John Broadus Watson (1878-1958)
Watson adalah pelopor dan pendiri aliran pemikiran Behavioristik dan mendapat julukan sebagai orang Behavior. Aliran ini di perkenalkan pada tahun 1913, dan telah muncul di Amerika Serikat, sebagai aliran yang menantang aliran-aliran yang sebelumnya. Watson berpendapat bahwa psikologi haruslah menjadi ilmu yang objektif, karena itu watson tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya dapat diteliti melalui metode intropeksi. Metode instropeksi sendiri tidak objektif dan karenannya tidak ilmiah.
Behaviorisme adalah salah satu aliran Psikologi yang sangat berpengaruh. Watson telah berusaha untuk membangun dan mengembangkan aliran ini sebagai suatu ilmu saintifik yang menggunakan metode eksperimen sebagai metode penelitian ilmiahnya.
Abraham H. Maslow (1908-1970)
Sebagai seorang tokoh humanistik yang profesional Maslow senantiasa menghubungkan masalah pemenuhan kebutuhan kepada motif, sebab musabab yang menjadi tuntutan hidupnya. Motif atau motivasi dapat menunjuk persoalan dalam diri individu aktif dan menumbuhkembangkan perilaku yang lazim dalam pemenuhan kebutuhan. Maslow menekankan pada aspek kemanusiaan yang memiliki naluri azali yang baik dan mempunyai keinginan untuk mencapai kesempurnaan diri. Jika keadaan lingkungan menghalangi atau mengganggu perkembangan psikologisnya. Maka individu tersebut akan berkembang secara neurotis. Kondisi ini dapat terjadi di sebabkan naluri dalam diri manusia adalah lemah dan mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungannya.
Victor E. Frankl (1905-1997)
            Victor E. Frankl adalah salah satu psikolog barat yang pemikiran logoterapinya dipandang ada kedekatan dengan Islam oleh Malik Badri. Bahkan logoterapi, suatu corak psikologi yang mendapat penghargaan khusus dari Malik sebagai aliran psikologi yang mengembangkan sikap optimis yang banyak dan memiliki kedekatan dengan nilai Islam. Frankl memandang Logoterapi sebagai model yang dapat membantu pasien menemukan makna hidup. Logoterapi membantu pasien menemukan makna hidup. Logoterapi membuat  pasien sadar tentang adanya makna-makna yang tersembunyi dalam dirinya. Bagi Frankl tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa lebih efektif membantu seseorang untuk bertahan hidup bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun, selain kesadaran, bahwa hidupnya memiliki makna.
KAJIAN KEDUA
PSIKOLOGI AGAMA DALAM CATATAN AWAL
Terminologi Psikologi Agama
Psikologi agama terdiri dari kata majmuk yaitu psikologi dan agama. Psikologi berasal dari bahasa Inggris psycho dan logy. Psycho berarti jiwa, mental, dan ruh, sedangkan logy berarti ilmu. Maka psikologi adalah ilmu yang membahas tentang jiwa. Agama dapat di artikan sebagai tidak kacau. Jadi psikologi agama merupakan satu cabang dari psikologi. Kajiannya menitikberatkan kepada perilaku beragama individu, masyarakat dalam satu komunitas.
Perkembangan Psikologi Agama
Sejarah perkembangan psikologi agama sejak awal abad ke 19 telah menarik perhatian para peminat psikologi, terutama bagi orang-orang yang terlibat langsung dengan dunia pendidikan, konseling, terapi, bahkan lembaga-lembaga sosial semakin memandang urgen terhadap kepentingan psikologi agama di era modern. Psikologi agama menarik perhatian para peminat psikologi muslim untuk ditelaah dengan pendekatan Quráni dan ataupun berdasarkan al-Hadits. Psikolog muslim yang terlibat langsung dalam kajian ini, seperti Utsman Najati, Malik Badri, Mustafa Fahmi, Zakiyah Darajat, Hana D. Bastaman, Dadang Hawari, Fuad Nasori Suroso, Yahya Jaya, Ramayulis, dan lain-lain.
Integrasi Psikologi dengan Agama
Psikologi dan agama dapat dipandang bersinergi, apabila dua hal yang berbeda ini disatukan dalam aplikasi yaitu membangun jiwa agama. Psikologi berada pada aspek keilmuan yang selalu berubah sesuai perkembangan an-sich ilmiah, sistematik, logis, dan metodologis yang titik kajian meliputi gejala perilaku atau gejala jiwa. Sementara agama adalah domainnya Tuhan yang absolut, sakral, dan permanen. Dua kata majemuk yang kemudian disebut psikologi agama adalah sinyalemen pertautan antara keduanya yakni rohani. Maka apabila psikologi agama menyatu dalam keilmuan, keduanya bersignifikan dalam menemukan sebuah metodologi yang berdaya guna.
Psikologi Agama dan Kesehatan Mental
Kesehatan mental adalah salah satu cabang psikologi. Zakiyah Daradjat menyebutkan bahwa kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat.
Apabila dicermati, maka agama dan kesehatan mental adalah dua sisi mata uang yang memiliki paralel kuat yang bersignifikan antara keduanya. Demikian juga halnya antara kesehatan mental dengan psikologi agama merupakan dua paralel yang similar dan berkesinambungan dalam eksistensi suatu keilmuan, yang sama menginduk pada psikologi. Kedua-duanya tidak dapat dipisahkan begitu saja, karena untuk membicarakan kesehatan mental maupun psikologi agama tolok ukurnya pasti psikologi sebagai induk dari kedua ilmu tersebut.
Motivasi Beragama
Motivasi beragama muncul setelah Tuhan mempertanyakan tentang esensi ketuhanan-Nya. Artinya manusia sejak dialog itu sudah mengakui tentang tujuan penciptaanya sebagai makhluk yang bergantung pada ketuhanan; butuh sesuatu yang permanen, sakral, dan absolut. Kemudian manusia dipengaruhi sejumlah faktor seperti lingkungan, pendidikan, kebutuhan, dan pengalaman-pengalaman dalam hidup untuk menjadikannya beragama.
Motivasi beragama bisa saja muncul disebabkan datangnya perasaan takut akan bahaya yang akan menimpa dirinya, mungkin disebabkan oleh kesalahan atau dosa-dosa yang diperbuatnya. Secara psikologis orang yang takut akan memohon pengampunan dari Tuhan.
Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri adalah ketepatan seseorang di dalam menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangai oleh pengalaman belajar khususnya dalam masa kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usaia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.
Aktualisasi diri adalah sebuah hasrat untuk menjadi diri sendiri. Aktualisasi diri sendiri berdasakan kemampuan sendiri. Aktualisasi diri merupakan kebutuhan paling tinggi untuk meraih kesehatan mental. Prosedur perolehan aktualisasi diri lazimnya diawali dengan prinsip-prinsip pemahaman terhadap diri sendiri, di mana individu mengenal potensi dan jati dirinya sendiri.
KAJIAN KETIGA
PSIKOLOGI AGAMA ISLAM
Islam menjadi sumber pedoman, bimbingan, dan pengajaran. Al-Quran maupun al-Sunnah telah menjelaskan secara konfrehensif berkaitan persoalan-persoalan yang dapat mengantarkan umatnya ke jalan kebenaran untuk mencapai kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat. Islam mengajarkan agar umatnya meninggalkan perilaku buruk yang seiring dengan perintah berperilaku baik. Berperilaku baik ataupun buruk memiliki efek terhadap kondisi kejiwaan umat. Perilaku baik dapat mengantarkan seseorang kepada kondisi psikologis yang paripurna.
Pendekatan preventif Islam dalam mengatasi sex bebas dapat dilakukan melalui:
1.      Individu berpakaian sesuai syariat yaitu pakaian yang menutup aurat, tidak ketat, dan tidak dan tidak transparan.
2.      Individu tidak berduaan dengan lawan jenis di tempat-tempat yang sepi dan sunyi.
3.      Individu yang belum mampu menikah, hendaklah berpuasa.
4.      Individu selalu menahan pandangan dari sesuatu yang menimbulkan birahi.
5.      Individu beribadah, agar senantiasa tercegah dari perilaku fahsya’dan munkar.
Psikologi Iman
Psikologi iman adalah kekuatan bathin yang timbul disebabkan keyakinan yang utuh kepada Tuham yang berhak di sembah. Keyakinan kepada Tuhan, lestari dengan istiqamah dan penuh keikhlasan bahwa tiada Tuhan selain Dia yaitu Allah sang Rabbul Jalil.
Psikologi Ibadah
Ibadah adalah tujuan hakiki dari penciptaan manusia. Ibadah adalah suatu perbuatan yang menyatakan bukti Allah yang didasarkan kepada ketaatan dalam mengerjakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Ibadah juga bermakna melakukan ketaatan dalam mencapai keredhaan Allah SWT dan mengharap pahala-Nya di akhirat. Bagi ulama tasawuf, ibadah seorang mukallaf adalah mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan keinginan hawa nafsunya dan membesarkan Tuhan-Nya.
Muhasabah al-nafs adalah upaya menghitung-hitung diri atau dengan kata lain, seorang muslim mengenali dirinya, upaya apa yang telah diperbuatnya, dan bagaimana ia mampu mengenali Tuhannya, serta mengaplikasikan keimananannya melalui amalan-amalan ibadah. Muqarabah al-nafs adalah keyakinan bahwa Allah selalu hadir, mengawasi setiap langkah, gerak tutur kata, bahkan bisikan hati sekalipun
Dengan bermuhasabah al-nafs dan bermuraqabah al-nafs seseorang berupaya menjaga dirinya dan ketergelinciran dan kemaksiatan yang akan merugikan dirinya.
Penguatan Shalat dalam Psikologi
Shalat adalah perilaku ihsan hamba terhadap Tuhannya. Ihsan sholat adalah menyempurnakan dengan membulatkan budi dan hati, sehingga pikiran, penghayatan dan anggota badan menjadi satu, tertuju kepada Allah SWT. Antara ihsan dan aktifitas adalah dua perkara yang berkaitan, kedua-duanya adalah bertujuan untuk memperoleh kecintaan dan keredhaan Allah.
Kebahagiaan dalam shalat sebenarnya adalah kebahagiaan hakiki yang diperoleh karena kedekatan mushalli dengan Tuhannya. Semakin banyak shalatnya, semakin tinggi pula tingkat kebahagiaan yang dicapainya. Selama shalatnya khusu’, tawaddu’, dan ikhlas, maka kebahagiaanpun semakin permanen dari diri mushalli.
Penguatan Zakat dalam Psikologi
Zakat mempunyai makna dan tujuan yang sangat vital, terutama sebagai cobaan dari kecintaan kepada Allah SWT, selaku pemilik dan penguasa herta kekayaan dan nikmat yang dianugerahkan kepada muzaki. Zakat adalah metodologi dalam membersihkan diri dari sifat bakhil dan melahirkan rasa syukur yang dalam terhadap limpahan anugerah dan rahmat oleh Allah Rabb al-Álamin. Sangat wajar, apabila Allah menitahkan, agar umat Islam menunaikan kewajiban zakat, sebagai cobaan dan bukti kecintaan seorang muslim terhadap seseama dan Tuhannya.
Kewajiban zakat, di samping pengembangan solidaritas dan penyucian harta, juga berimplementasi kepada peningkatan spiritual yang teruji, membangun kebahagiaan, kesehatan mental dan kepribadian Qurani secara realistis. Kesan lain yang ditimbulkan zakat mampu menghapus sifat bakhil yang ditukar dengan sifat dermawan dan membawanya kepada mensyukuri nikmat Allah, sehingga dapat menyucikan diri dan mengembangkan kepribadiannya.
Psikologi Sufistik
Terminologi sufisme dalam Islam dikenal dengan tasawuf yang berarti suci dan bersih. Maka sufi adalah orang-orang suci yang selalu dekat dengan Tuhan.
Tassawuf dalam psiko spiritual Islam merupakan sebuah metodologi yang mengantarkan kehidupan seseorang pada kebermaknaan, kebahagaiaan, dan ketentraman jiwa. Orang-orang yang dekat dengan Tuhan hanyalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan hanyalah orang-orang yang bermuhasabah al-nafs dan bermuqarrabah al-nafs.


Penguatan Taubat dalam Psikologi
Taubat itu sendiri mengandung makna “kembali”, dia bertaubat berarti dia kembali. Jadi taubat adalah kembali dari sesuatu yang dicela oleh syara’menuju sesuatu yang dipuji olehnya.
Dalam psikologi taubat, seorang terapis mendorong individu agar senantiasa menghiasi diri dengan ibadah dan amal saleh. Perlakuan semacam ini, merupakan usaha terapis dalam membina pasien dalam ketaqwaan dan keimanan yang kuat. Psikolog mendorong individu tersebut dalam ketaatan dan tidak memikirkan untuk berbuat dan memikirkan tentang dosa dan maksiat yang dilakukannya pada masa lampau.
Penguatan Ikhlas dalam psikologi
Ikhlas adalah salah satu sifat yang sangat erat kaitanya dengan pencegahan (preventive), perawatan (curative) dan pembinaan (constructive).
Keikhlasan merupakan prinsipil dalam Islam. Seorang psikolog memotivasi pasien supaya senantiasa berlaku ikhlas dalamm beramal tanpa dicampuri rasa riya’. Dengan demikian, seorang pasien, insyaallah secara berthap memasuki ketenangan dan kesehatan mental.
Penguatan Zuhud dalam Psikologi
Secara terminologi zuhud adalah mengarahkan keinginan kepada Allah SWT, menyatukan kemauan kepada-Nya dan sibuk dengan-Nya dan meninggalkan kesibukan-kesibukan lainnya dengan harapan, agar Allah memperhatikan dan membimbing seorang zahid (orang yang berperilaku zuhud).
Pada komponen psikologi zuhud, seorang terapis berfungsi sebagai motivator kepada pasien. Seorang terapis berfungsi sebagai motivator kepada pasien agar senantiasa dalam kehidupan yang sederhana dan tidak berlebihan.
Penguatan Redha dalam Psikologi
Redha merupakan puncak kecintaan yang lahir daripada pengabdian yang sungguh-sungguh dan penuh kepasrahan, tawaddu’, dan tawakkal. Dalam amalan terapi, seorang terapis dapat mempratikkan metodologi psikologi redha kepada pasien, supaya dia senantiasa mencari keredhaan Allah SWT yaitu dengan melakukan ketaatan dan ketaqwaan. Melalui proses ini, seorang pasien membiasakan dirinya dalam keredhaan dan berusaha untuk mencapai keredhaan Allah SWT.
Penguatan Sabar dalam Psikologi
Sabar merupakan sikap jiwa yang ditampilkan dalam penerimaan sesuatu, baik berkenaan dengan penerimaan tugas dalam bentuk perintah dan larangan, maupun dalam bentuk perintah dan larangan, maupun dalam bentuk perlakuan orang lain, serta sikap menghadapi suatu musibah.
Penguatan Syukur dalam Psikologi
Bersyukur dari penerimaan nikmat adalah sebuah keharusan. Seorang muslim belum disebut bersyukur, selama ia belum mengabdikan diri dan berkhidmat sebagai bukti dari rasa syukurnya tersebut. Bersyukur tidaklah mungkin kecuali atas dasar kecintaan yang bersahaja sebagai tempat syukur itu kembali.
Rasulullah dalam sebuah riwayat menjelaskan yang bermaksud siapa yang ditimpa musibah, ia sabar, siapa yang diberikan rezeki, ia bersyukur, siapa yang berlaku aniaya kepadanya, dimaafkannya ketika ia berlaku zalim ia minta ampun, bagi mereka keamanaan dan termasuk orang yang mendapat petunjuk
Penguatan tawakkal dalam psikologi
Tawakkal adalah kepercayaan dan penyerahan diri kepada takdir Allah dengan sepenuh jiwa dan raga. Dalam Islam, tawakkal ditafsirkan sebagai suatu keadaan jiwa yang tetap berada selamanya dalam ketenangan dan ketentraman, baik dalam keadaan suka maupun duka..
Penguatan Ma’rifah dalam Psikologi
Ma’rifah dalam spiritual Islam menjadi isu penting sebagai pengukuran nilai-nilai ilahiyyah; karena ma’rifah adalah tingkat tertinggi dari pendekatan-pendekatan yang dilakukan manusia untuk mengenali Tuhan.
Penguatan Khauf dan Tawaddhu’dalam Psikologi
Khauf adalah tempat persinggahan hati dan menjadi pengawal hati menuju Tuhan-Nya. Sifat khauf ataupun tawadhu’ (kerendahan hati) secara metodis dapat membentuk psikologi insaniah yang baik dan terpuji. Kehadiran dua sifat tersebut dan tinggal dalam diri seseorang sufi, dapat membentuknya menjadi seorang terhormat di mata zahir manusia dan dekat denga  Tuhannya.
Penguatan Muthma’inah dalam Psikologi
Muthmaínnah adalah terminologi lain dari kebahagiaan, yaitu ketenangan, kelegaan dan keselarasan jiwa. Muthmainah tidak muncul secara tiba-tiba. Muthmainah adalah tajalliyyah al-nafs yang muncul sebagai perimbangan Allah atas hamba-hamba yang taat, beramal shaleh, selalu bertaqarrub dan berdzikir kepadaNya. Karena muthmainah adalah anugerah; maka setiap individu yang berkeinginan untuk memperolehnya, seharusnya berzikir dan beramal shaleh.



KAJIAN KEEMPAT
PERILAKU MENYIMPANG
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang secara sadar ataupun tidak dilakukan oleh individu atau kelompok orang yang merugikan dan bertentangan dengan hukum masyarakat. Perilaku menyimpang adalah bentuk nyata dari ketidakmampuan seorang dalam menyesuaikan diri dalam komunitasnya sendiri baik secara dalam menyesuaikan diri dalam komunitasnya sendiri; baik secara hukum, pranata, sosial, maupun psikologisnya.
Perilaku menyimpang dalam perspektif psikologi agama menunjukkan ditandai sebagai geejala desdruktif perilaku yang menurut pandangan psikologi agama perlu di selesaikan melalui pendekatan psikologi.
Perilaku Free Seks
Free seks adalah perilaku pelanggaran. Free seks melanggar sistem dan pranata hukum, pranata sosial, agama, norma, dan budaya. Free seks adalah penyimpangan perilaku yang hanya dianut oleh sebagaian kecil umat manusia yang berkeinginan atas kebebasan, dimana mereka tidak ingin ada hukum yang mengikat atau aturan apapun yang membuat mereka terhalangi untuk melakukan penyimpangan dalam bentuk free seks.
Dalam psikologi agama perilaku seks bebas diketahui sebagai perilaku orang-orang yang pada prinsipnya tidak memiliki kesadaran, baik kesadaran beragama, bernorma, bersusila, ataupun berbudaya.
Pelacuran, Sodomi, homo seks, dan lesbian
Pelacuran, sodomi, homo seks, dan lesbian adalah perilaku yang mengacu pada interaksi seksual atau romantisasi di antara individu atas dasar kesadaran, suka sama suka dan saling menguntungkan. Pelacuran adalah merupakan terminologi negatif untuk penyebutan pasangan seks tanpa ikatan pernikahan. Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks untuk memperoleh uang.
Sodomi adalah perilaku di luar kemanusaiaan. Sodomi biasanya dilakukan seorang laki-laki terhadap jenisnya sendiri dalam menikmati seks. Homo seksual adalah terminologi penyebutan hubungan sesama jenis yaitu antara laki-laki dengan laki-laki lain.
Lesbian adalah peilaku seks yang bergulir di antara perempuan, lesbian adalah ketertarikan seks pada jenis yang sama. Psikologi agama memandang perilaku menyimpang, seperti pelacuran, sodomi, homo seks, dan lesbian sebagai persoalan psikologis yang berkaitan dengan agama. Agama memberikan pedoman penanggulamgan penyakit masyarkat sementara psikologi bersinergi dalam melakukan pendekatan dan metode pemulihan untuk membebaskan masyarakat dari perilaku-perilaku menyimpang tersebut.
Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja muncul disebabkan keinginan menunjukkan ka-akuan, aktualisasi diri yang tersalah dalam perwujudannya. Kenakalan remaja muncul sebagai protes terhadap dirinya yang dipandang lemah. Kenakalan remaja dalam psikologi agama adalah perilaku menyimpang yang mesti dicarikan solusi dan pembinaan yang serius. Secara psikologis, perilaku menyimpang yang berbentuk kenakalan remaja di pengaruhi oleh sejumlah faktor yang menjadi sebab kemunculan. Karena itu faktor penyebab harus ditelaah, kemudian menemukan solusi pencegahan atas berkembangnya kenakalan-kenakalan baru yang mengkristal tersebut. Dalam perspektif psikologi agama, perilaku kenakalan dapat ditanggulangi dengan penanaman nilai spiritualitas agama dengan penguatan keimanan, peribatan, dan akhlak.
Pengguna Narkotika, Zat Adiktif dan Minuman Keras
Narkotika, zat-zat adiktif, dan minuman keras adalah komponen-komponen yang merugikan kesehatan, membunuh pengguna secara perlahan, merusak syaraf, dan mental. Efek langsung dari pengguna secara berlebihan sudah jelas pada fisik dan mental. Secara psikologis pengguna narkoba, zat-zat adiktif, dan minuman keras mudah rapuh dalam menatap masa depan, tidak percaya diri, tersugesti hanya dengan memakai benda benda terlarang, bisa menimbulkan stres yang berkepanjangan karena ketergantungan, stress, depresi , dan bahkan bisa menimbulkan kegilaan.
Dalam psikologi agama, penyimpangan perilaku seperti penggunaan narkotika, zat adiktif dan minuman keras adalah efek negatif yang muncul dari pergaulan yang tidak terkontrol. Keinginan untuk coba-coba, juga bagian dari efek ini, akan tetapi ia tidak beserta merta itu saja, bahkan kelemahan di tingkat keimanan adalah sesuatu yang prinsipil mempengaruhi jebakan narkotika, zat adiktif dan minuman keras. Upaya preventis, kuratif, dan rekonstruktif-rehabilitif adalah suatu kemestian. Dengan mendirikan pusat terapi adalah bentuk konkrit yang secara nyata telah terbukti ampuh memulihkan pasien-pasien mental akibat narkotika, zat-zat adiktif dan minuman keras.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silabus dan RPP aqidah akhlak kelas 4 semester 2

    SILABUS   Nama Sekolah                    : SDI Al-Chusnaini Mata Pelajaran                 : Akidah-Akhlak Kelas/Semester                  : IV (empat) / I I (genap) Standar Kompetensi         : 5. Memahami kalimat thayyibah (assalaamu’alaikum) dan Al-Asma al-Husna (As Salaam, Al Mukmin dan Al Latiif) Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar 1 2 3 4 5 6 7 5.1.    Mengenal Allah melalui kalimat thayyibah assalaamu’alaikum §   Pengertian...

Matematika Termodinamika

Download Mat. Termodinamika

Materi Fisika Universitas

Materi Tingkat Universitas dapat anda download dibawah ini Fisika Dasar 1(M.Satiawan) (Bhs.Indonesia) Fisika Dasar 2(Optik)(Bahasa Indonesia) Fisika kuantum   (Bhs Indonesia) Download juga Fisika Fluida disini Download Matematika Untuk Termodinamika disini Download Suhu dan Kalor disini